Woiii,,,, Nella Jatuh ke Got!!! (edisi berandai-andai mode on)

•May 14, 2009 • 1 Comment

Give u’r opinion ya Dara and K’ipong…..

Salam

Nl

Father Syed banget!!!

•May 4, 2009 • 1 Comment

Izinkan saya tertawa terlebih dahulu…

Huahhahahhahhahahahhahha (udah ah capek)

Adalah, hari Sabtu kemarin diriku masuk kantor.  Dan ini bukanlah hal yang biasa bagiku.  Setelah malamnya sempat lembur sampe jam 8-an lewat. Saat itu,  setiap tarikan nafas bayangan Dek Dara selalu menghantuiku (heuheu…)

Bukan ‘penderitaan” ini yang ingin aku bagi-bagi.. Tapi adalah cerita percakapan menarik yang menggelikan hati. Jam sudah menunjukkan hampir 12.00. NAmun Bas10 belum juga muncul batang hidungnya ke kantor. Mana CD yang sekodi harus diburn hari ini, belum lagi untuk label cd-nya yang belum aku print dan aku sudah membayangkan susahnya mengatur format kertasnya..oalaaaa

Kuberanikan diri…untuk memulainya….cieee, kok jadi macam lagu Reza ya.. Ya sutralah, inisiatif aja lah, pokoe aku siapin dulu burningnya, sambilan desain kopernya. aku kerja dengan 3 kompi saudara2! Kompiku, Ndah and (eks) Dara. Niatku, ntar klo udah siap tinggal taruh di atas meja Bas and pulang. Masak aku harus nunggu dia datang yang belum jelas juntrungannya.  Jreng..jreng…. Desai koperpun siap.

“Pak, bagusan mana Pak, apa yang ini ato yang ini” aku meminta penilaian Pak Syed tentang desain koper yang sengaja kubuat dua biar ada alternatifnya.

dengan seksama Pak Syed memperhatikan desainku.. Adik-adikku yang manis-manis.. Tahukan kalian apa jawaban alias penilaian Pak Syed ??

“Saya pilih ini, lebih ekonomis!”

Gubrak!! wuakakkakakakka… kan, Pak Syed bannget penilaiannya… dan petaklah mukaku…

PS: Nella harus tahu hal ini waopun sudah lebih dari tahu.

Salam

fh

A Friend…

•April 17, 2009 • 2 Comments

Strenghtens the heart;

Repairs the hurt;

Encourages the discovery;

Enlightens the minds;

Dissolves the pain;

Banishes the loneliness;

Understands the anxieties;

Increases the joy;

Deepens the spirit; and

Frees the soul.

_Walter Kinder_

Ketika Dara tidak di Sini

•April 13, 2009 • Leave a Comment

Dara,
SEHAT ??

fh n nl
bna, 13 April 09

Curigation vs Dermawan

•April 9, 2009 • Leave a Comment

Sepintas mencurigakan…
Dua pintas sangat mencurigakan!

Nun di atas gunung …
Ellen : “Kenapa mereka celingak-celinguk sepeda motor kita ya? Jangan-jangan mereka mau bawa lari motor kita ni.. aku mau turun ahh…”
Dedy : “mereka juga tengok ke kita… curiga saya…”
Aku : “Mereka nampak kita kan dari bawah??”
Pembicaraan kami semakin ke arah curiga kepada awak pos jaga tower.

Kami berenam, aku, Ellen, Dedy, Dara, Dian dan Sabar sejak setengah jam tadi mendaki gunung bukit tower Mata Ie. Kami berangkat selepas main (lebih tepatnya menonton) tennis lapangan di samping kolam renang Mata Ie dengan mengendarai sepeda motor.. (kirain bersepeda!… La iyalah emangnya pada kuat-kuat semua naik tanjakan gunung yang nanjak banget apa?!)

Dara, Dian dan Sabar udah duluan ke puncak. Aku nyerah! Lututku udah gemetar menaiki tangga yang ga terhitung jumlahnya. Daripada ntar aku pingsan, mendingan aku sampe sini aja deh. Uhhh untuk kedua kalinya aku gagal ke puncak ini!!.

Aku nyerah.
“Tinggalin aku sini aja… ga papa.. ka ada orang di bawah.. aku ga takut kok” pinta ku.
“Aku sini juga ah, aku kan udah pernah ke puncak” Ellen berniat menemaniku.
(Thanks Ellen… ).. Tiba-tiba, di mataku Ellen jadi punya sayap putih di belakang. Ngarang banget ya.

Tinggal aku dan Ellen… menikmati panorama hijau hutan Bukit Barisan.
Subhanallah!
Dara, Dedy, Dian dan Sabar udah ke atas.

Lima belas menitan kemudian…
Eit, Dedy balik ke tempat kami. Ga jadi ke atas. Mau kawanin ibu-ibu di sini. Katanya. Entar kalo ada monyet gimana? Sambungnya… hahaha.. aya-aya wae Dedy ni.. Lha, pawang monyetnya aja di sini, hihihi… ga mau ngaku siapa…sudahlah.
Progress curiga semakin tinggi saat frekwensi celingukan ke atas bertambah.

Dan… olalaala….
Ada yang menyusul ke tempat kami. Naik pake tongkat kayu.

“Udah lama naiknya” dia membuka pembicaraan.
“barusan saja…” jawab Dedy

“di bawah ada yang ninggalin kamera tuh!”

“HAAAA………….!!!!”

Oh Tuhan… Rupanya mereka tadi yang celingukan karena di stangnya motor aku tersangkut (ketinggalan) sekantong kamera saku, STNK, plus kartu ATM. Dermawan sekali aku, bukan? Hehe kesannya memberi bonus untuk maling motor berupa STNK and ATM, seandainya.

Duuhh… aku merasa berdosa banget!
Tadi udah terlintas pikiran macam-macam untuk mereka. Rupanya masih ada orang-orang baik di sekitar kita yang tidak belum kita kenal.
Thanks Topan!!

Bna, fh

Dara and Nella

•March 6, 2009 • Leave a Comment

I luv uuuuuuuuuuuu

Unforgetable Journey – Medan

•February 16, 2009 • Leave a Comment

See ? End of August, 2008

Tulisan ini diturunkan untuk mengenang perjalanan kami yang tak terlupan…

Dian, Dedy, Sabar, Mukhsin, Dara, dan Nella..

Teman seperjalanan yang menyenangkan.

Kapan kita bisa mengulangi perjalanan seperti ini?


Banda Aceh: August 15, 2008

Setelah acara jemputan personil dan bolak-balik mengurus rental mobil yang sedikit alot akhirnya jadi juga kami berangkat. Jam menunjukkan pukul 11 malam lewat, jalanan Banda Aceh udah mulai beranjak tidur. Tidak terkecuali dengan mata kami yang sudah tertinggal 5 watt. Cuman semangat yang masih membuat kami masih terjaga. Ditambah dengan guyonan dan joke-jeko segar, awal perjalanan menjadi lebih hidup.

Mukhsin yang kebagian jadi Pak Sopir and Dedy sebagai asisten merangkap ‘kepala suku’ (dua posisi yang berbeda di kehidupan dunia nyata nih!) harus tetap melek di sepanjang perjalanan.

Sempat dug-dug juga diawalnya (soalnya belum pernah naik mobil yang disopirin Mukhsin), jago gak ni ya Mukhsin, selamat ga ya? (sorry, Mukhsin..peace!).. Dara sempat protes sewaktu mobil berlari kencang and agak kurang mulus dibelokan, grudak-gruduk, kasihan yang duduk di belakang, pontang-panting kaya barang hehe ..(Bang Dian and Sabar!). Alhamdulillah kepercayaan keselamatan penumpang mulai tumbuh setelah Pak Sopir berhasil mengelak beberapa hal yang menggangu perjalanan. Sempat juga mata terpejam walo sangat sebentar di sekitar Seulawah.

On the way: August 16, 2008

Sekitar jam 3 an kami memasuki Kota Sigli, dan Sigli pun menjadi topik perbincangan, Nella dan aku masih seperti bisa membela Sigli dengan segala keberadaannya sekuat mungkin. Poko’e Sigli is the best! Perjalanan ini yang membuktikannya. Iya bener! Ntar kita temukan jawabannya dalam laporan perjalanan ini.

Malam semakin turun, mata mulai mencari-cari tempat rebahan dengan posisi senyaman mungkin, dan perjalanan harus terus berlanjut seiring dengan berlanjutnya berbagai program-program indah kami untuk esok hari.

Perbatasan Sigli masih nampak remang-remang, Teupin Raya tercinta (yang masih juga belum masuk dalam peta) sudah mulai terlelap, Lueng Putu, Meureudu..Ulee Glee…jadi semakin kabur. Jeunieb..Bireun…Zzz..zzz…zzz…lewaaatttt. Aku mulai menjemput mimpi…

Mata sedikit mulai terkuak, saat mulai terasa ada cahaya kemerahan di mata, oh sudah pagi rupanya! Sunshine!!.. Olala..salah ding! rupanya obor raksasanya PT. Arun.. kirain udah pagi. Tidur lagi ahh.. nyambung mimpi untuk hari-hari berikutnya.

Perjalanan sempat tegang..sewaktu Sabar menggantikan posisi Mukhsin. Ngeri-ngeri sedap ni. Awalnya mulus bin pelan banget.. pas banget untuk suasana tidur.. tapi ntar kapan sampainya ini? Pelan.. dan Sabar masih nampak kaku.. kasihan juga Mukhsin kalo jadi jadi Sopir semalaman. Dari penampilan seh, Sabar udah pas banget jadi Sopir hehe (peace, Bar!..tinggal tambah handuk ajah di pundak). Medan..Medan..teriak Dara. Hahaaha.. tawa penghujung malam pecah lagi.

Zzz..zzz…. lagi-lagi semuanya jadi buram.

Selepas shalat shubuh di daerah Aceh Utara, …melanjutkan perjalanan, dan pagi jam 7an kami memasuki Kota Langsa. Sarapan dan cuci muka menjadi menu utama pembuka pagi pertama perjalanan ini.

Hari beranjak, perjalanan mulai hidup lagi diisi dengan celatah celotehan aku yang kadang-kadang ga jelas, Dara, Dedy, Sabar, Nella, Bang Dian dan sesekali diselingi dengan celutukan Mukhsin. Fresh banget! Ada aja yang jadi sasaran, seringnya sih Sabar.. emang Sabar harus benar-benar sabar ya. Dhuhur kami istirahat di Binjai, cuaca mendung mengiringi perjalanan kami dan gerimis mulai terhitung di halaman mesjid. Mesjid yang sejuk. Sayang, jamaah dhuhurnya masih bisa dihitung jari. Yang laki-laki cuma belasan, yang perempuan..only three of us, aku, Nella and Dara.

Macet!. Kesan pertama memasuki Kota Medan. Kapan ya kata macet hilang dalam kamus program pemerintahan Indonesia? Rasa gerah kentara banget di luar mobil, walopun mobil kami ber-AC namun kami masih bisa merasakan kegerahan orang yang lalu lalang di Kp. Lalang, pintu gerbang masuk Kota Medan. Ini Medan, Bung!! Slogan welcome-nya Kota Medan yang sudah tidak tampak lagi. Kalah besar sama baliho salah satu produsen rokok terkenal di Indonesia dengan initial J_Jarum (kalo ga salah ya..hehe).

Sabar, guide andalan kami untuk bisa keluar dari Kota Medan menuju Berastagi mulai mencari-cari informasi dengan menelpon temannya. Aku? Ampun deh..rasanya sepuluh kalipun disuruh ke Medan, tetap ga kehafal-hafal jalannya. Cuma ingat jalan yang harus dicari, Jamin Ginting!. Klo udah ketemu Jamin Ginting, aman. Ni jalan berujung (klo emang punya ujung) ke Berastagi, kota tujuan kami. Klo mau diteruskan, bisa berujung ke Banda Aceh juga lewat Sidikalang, Tapak Tuan, Meulaboh dan seterusnya ato terserah mau ujung kemana. Ke rumah sakit juga bisa lho, klo Sopirnya ngantuk ato lagi naas. Ujungnya kemana saja bisa rupanya ya, saudara-saudara!

Sempat menguji kemampuan bermatematika di warung makan Kota Medan. Maklum makan di warung sederhana juga dengan kemampuan menghitung yang sangat sederhana. Emang rezeki kami kali yee.. untung sepuluh ribu. Lumayan. Untuk beli buah.

Pesan moral pertama:

Jangan percaya pada kemampuan matematika anda yang pas-pasan sederhana, dari pada menimbukan kerugian maka percayakan saja pada ujung jari anda dengan menekan kalkulator! Beres.

Menu makanan yang kurang menarik, Ikan dengan rasa yang aneh plus daun singkong (lumayan nambah zat besi) Nella makan dengan setengah hati, tapi kami harus tetap makan. Minimal perut terisi. Perut kenyang. Hati senang. Berastagi menanti kami.

Naik-naik ke puncak gunung..tinggi-tinggi sekali..kiri kanan ku lihat saja banyak penjual B1 B2…. lala..lalalaaa… itu kira-kira gambaran pemandangan keluar dari Kota Medan menuju ke Berastagi. Iiiiiii….. ga kebayang deh klo disuruh makan. Uenak kata Sabar.

Ga malam ga siang… adaaa aja obrolan sepanjang jalan kenangan.

Dari obrolan santai sampe obrolan mutilasinya Ryan yang lagi heboh-hebohnya! Juga, main sikut-sikutan. Dilarang marah apalagi sakit hati. Juga sangat dilarang untuk melibatkan perasaan di sini.

Actually, sehari sebelumnya aku sama Dara udah sibuk-sibuk booking kamar penginapan. Sempat pusing juga awalnya, kebayang hotel ato apalah pada penuh semuanya. Kami udah booking 2 kamar di Losmen Anu (lupa-red). So, ntar klo udah sampe tinggal masuk penginapan, istirahat, beres deh.

Adalah ide ‘keluar masuk’ hotel bermula dari Dedy, pengin tahu tarif aja sebenarnya.. siapa tau ada yang bagus and murah! Kl0 bagus and mahal sih banyak… kami emang suka yang langka-langka hehe.. maklum.. penghematan. Ujung-ujungnya jatuh pilihan ke Garuda bukan pancasila.. tapi Garuda Rumah Makan yang atasnya ada penginapan. Lokasinya di deretan toko dekat Tugu Juang (sok tahu ni namanya) Berastagi. Lumayan.. langsung cublang cublum ke kamar mandi.. eit, tunggu dulu.. ga mandi ding! Dingin buanget hihi….

Lantainya tidak bisa di pijak. Oalahhh….. Setelahnya?

The Figures below represent of our activities to spent the night in Berastagi. Haih…

Dari gaya menatap bulan, jual duren and makan ikan bakar. Sampai sekali langkah dua goyangan (hahhaha). Ga da yang istimewa.. tapi kebersamaannya itu…. sangat terasa, subhanallah!!

So many thing happened on that time.. termasuk beli oleh-oleh. (ada yang disesalkan di sini: kenapa ga beli ole2 lebih dari secukupnya… jadinya ga ada apa2 deh… )

Pesan moral kedua:

Menunda-nunda waktu dalam hal membeli oleh-oleh berakibat sangat fatal, karena bisa berefek ke arah tidak membeli apapun”.

Dan itu telah terbukti.

Malam semakin larut, purnama semakin tersenyum di puncak kota dingin ini.

Saatnya merebahkan diri, melepas kepenatan di perjalanan dan mengumpulkan tenaga untuk besok.

Dingin mengetuk-ngetuk tulang, dan kami pun semakin bergelung untuk menemukan posisi yang paling hangat untuk menghantarkan ke alam sana.

Berastagi: August 17, 2008

Session yang paling ku suka! Sibayak.. we got on u!!

Merdeka!!!…. tret..tret..tret..!!!

Indonesia, sudah merdeka 63 tahun walo kita masih jauuuhh ketinggalan. Kita masih harus merangkak.

Kami mengawali mengisi kemerdekaan di pagi itu dengan berkunjung ke kebun strawberry judulnya “Berastagi Organic Strawberry Park”! (semoga para pejuang tidak iri dengan kami, kan waktu hari 17-an dulu ga sempat kaya begian.. (?? Ga lucu ah).

Puas-puasin makan strawberry langsung dari sumbernya. Nyam-nyam banget. Strawberry banget!. Puas-puasin makan sebelum ditimbang dan bayar untuk bawa pulang hehe lumayan udah kenyang di kebun, yang dibawa pulang berkurang hihi…

Only one word. Seru!.

Puncak Sibayak

Then,

The top story is…………………………….

Sibayak!!!

Jalanan yang sangat berliku dan berkelok (sama aja ya?!)

Dan rumput yang ku suka…

So soft… bak permadani terbentang ijo lumut dan segar banget plus masih ada sisa-sisa embun pagi 17an.. suegerrr banget, bro!

Tanjakan dan semak-semak hutan yang kadang-kadang tak bisa ku nikmati….

Cuapexx…Tapi, klo lagi difoto tetep kudu pasang senyum termanis. Cheese..!!

Dan, bau belerang yang mulai menyengat hidung…jadi ragu untuk maju.. Namun terlalu sayang untuk menyerah.. “sesuatu” telah menunggu di sana.

Mungkinkah??

… … …

The hero is… Mukhsin.

Thanks a bunch udah menuntun Nenek, Cu. Hehe…

Keraguan untuk maju datang berkali-kali… dada udah ngos-ngosan.. keringatan di dahi, lutut gemetaran… aku malah mengkhawatirkan mobil yang di bawah. Klo tiba-tiba ilang gimana ya? Ya elah tur….Halah-halah.

Bang Dian and Nella sudah melesat jauh ke depan. Ringan sekali ya badan mereka.. Dedy.. Sabar..Dara..samar-samar masih nampak. AYOO SEMANGATTTT….

Dedy pake sempat2nya mo kasih hadiah klo aku bisa sampe ke puncak… (Hayooo.. mana hadiahnya Ded..!! sstt…aku lupa apa hadiahnya…).

dan….

dann….

dannnnn………

Akhirnya sampai jugaaaaaaaaaaaaa………. dan sesampainya di top area……………

There was no SDC

There was no sad stories

There was no overload

THERE WAS NO WORRIES!!

Plong banget … Ya Rabbi, Subhanallah.. Belum pernah aku merasakan seplong ini, selega ini, sedamai ini dan sebebas ini.

AAAAAAAAAAAAAAAAAAA…..AAAAAAAAARGRGGRGRHHRGH…….!!!!!!

Lega.

Capek teriak hehhe…. suara kalah besar dengan deru semburan belerang dari perut bumi Sibayak.

Lama juga ga daki gunung lagi…

Jadi ingat stori nyari jomblang dan mangga agustusan waktu SMP, dan mendaki gua jepang sewaktu di Kaliurang yang katanya di puncak banyak “monyet”nya.. so sweet.

Satu pertanyaan di penurunan…

Kapan kita kembali ke sini?

Siangnya kami terjebak kemacetan yang luar biasa! Adalah di sana masih bergegap gempita dengan pawai agustusan. Macet lagi… lamaaaaaaaaaaaa sangat. Ditambah ujan and lapar juga harus keluarin barang dari ‘hotel’.

Akhirnya jalan kaki ke penginapan and bawa barang ke mobil yang udah kabur dari bari barisan kemacetan ke mesjid. Untung ada mesjid ni… Memang mesjid sangat berperan penting dalam perjalanan kami.

Episode Berastagi berakhir sudah. But never disappear in my mind … ^o^ …

Next destination. Prapat, Danau Toba.

Ujan mengguyur kota Berastagi. Kami menruskan perjalanan ke Danau Toba. Rutenya ….(ask Dedi!), Dedy masih megang juri kunci perjalanan.

Lewat Kaban Jahe, trus keluar masuk hutan…. ga terlalu ingat lagi, ga perlu terlalu diingatpun.. ga penting di sini..Kayanya original soundtrack yang tepat di moment ini ya..Naik-naik ke Puncak Gunung. Sayang, ga da yang berkutik, banyak yang kecapekan akibat pendakian. Ada pesan moral penting di sini:

Klo sudah HIV (hasrat ingin vipis) segeralah temukan mesjid terdekat!

Dosa kali yaa… ngomong gituan… tapi bener kok. Mesjid sangat bermanfaat, menolong di saat-saat kritis.

Detik-detik narsis di perjalanan:

Adalah Sabar, satu2 nya yang non muslim, ingin melakukan hajatnya. “ cari Mesjid dong” spontannya….

“ mmm… hebat kali ko yaa.. sesak nyari mesjid kami, ibadah di gereja!!”

Grrrhhhhh….. kena deh Sabar.. untung sabar yaa… sabar.

Selanjutnya tidak ada yang berani untuk mencari mesjid lagi, SPBU sebagai alternatifnya.

Di puncak gunung pinggiran Danau Toba yang aku ga tahu barat timur utara dan selatannya. Sejenak, menghirup udara segar…Sore menjelang magrib tiba juga di Prapat. Seperti biasa, mumang-mumang dulu nyari penginapan.

Magrib tiba dan penginapan belum juga ada yang cocok.

Aneh2 aja penginapan di sini. Macam2 style dan gaya nya yaa… Ada yang bagus kemahalan (buat kami), murah aneh bentuknya, ada yang bau tionghoa, macam-macam deh. Yang paling menarik Dedy ya yang ada koordinatnya. Mengertilah kita. Nikmati sajalah perbedaannya sobat.

Setelah mutar2 dan makan malam kami menemukan penginapan di pinggiran danau, Hermina Hotel. Suasana yang kristen banget. Ga pa-pa lah kan cuma semalam. Hotel rata-rata penuh. Kan lagi liburan.. jadi pada udah di booking duluan.

Badan yang sudah sangat-sangat letih langsung rebah melihat kasur, kamar mandinya ada bath up.. mmm lumayan ni bisa untuk rendaman (emang kain!). tapi sayang, enakan mandi macam gaya biasa heuheu…

Stop press:

Ada moment penting di sini, Nella.

(…… ?? off the recordnya Nella…………… ), Insya Allah, yang terbaik di saat yang tepat will company u to the moon and smile to the stars… halah-halah.. melo dikit ne!)

I trust u has chose the right option for you.

Dara: Kuat pisan ente yaa… masih sanggup jalan-jalan malam…. ya iyalah Dara lah yang paling junior diantara kami yang sudah sepuh heuheu.

Nyan payah pinah ek dalat bak tapak.

Dara pulang jam berapa aku gak tahu. Tahunya udah pagi and udah dipesenin jangan lama-lama, soalnya perjalanan masih panjang… ke Tuk-tuk nun di Samosir sana.

Uhhhh… susah nian bangun paginya… belum lagi ngepakin barang kembali.

Hup siap juga. Beresin barang macam dikejar apaaa gitu…. jangan lama-lama kata Dedy, ntar ga da kapal ke sana. Oke Bos!

Prapat: August 18, 2008

Spent a half of day in hungry and “ angry”

Mengawali pagi dengan sarapan seadanya di pinggiran Danau Toba, yang konon katanya danau terbesar di Asia Tenggara. Klo terindah, aku gak terima. Rasanya Danau Laut Tawar sangat lebih indah klo dijadikan sebagai perbandingan domestik.

Tertegun di pinggir danau…

Ayo semangat..semangat… perjalanan kita belum berakhir, teman!

Jujur, kenapa ya aku kok ga bisa merasakan keindahan danau ini.. dimana keindahan yang diumbar-umbarkan.. ato aku yang bermasalah ini telah kehilangan sense of art atau apalah sebutannya untuk penikmat keindahan alam. Sungguh.

Kami terlambat sampai di pelabuhan penyeberangan. Dan harus menunggu untuk keberangakatan beriktunya.

Lumayan, sekitar 1 jam-an. Kami manfaatkan dengan naik bebek duyung..

.Awalnya sempat takuutt… tapi kepingin…Dara bilang kak pong ni han-han tapi leupah syiet…!! J

Dan peluit ferry pun berbunyi…

Nae ferry deh.. rame juga yaa.. semua bertujuan yang sama mungkin. Rata-rata berwajah wisatawan. Ada abege yang dengan kaca mata yang nutup hampir seperempat wajahnya lagi sibuk berfoto ria dengan teman2nya, ada juga yang berwajah serem yang aku ga tau prefesinya. Yang paling mencolok ya segerombolan tetangganya Shah Rukh Khan.

Anak kecilnya menggemaskan.

Perjalanan ditempuh sekitar (??) menit. Awalnya sempat membosankan di ferry. Aku malas naek ke atas. Enakan di mobil saja. Udaranya lebih segar tidak bercampur dengan kepungan asap rokok. Huhh, aku benci sekali ini. Merokok di tempat umum.

Mulai tampak dari kejauhan daratan yang kami tuju. Bebangunan perumahan nampak berwarna putih dan kehitam-hitaman. Putih atapnya kali. Itam? Yaa seng yang udah lama kali. Tapi apa iyya seng atap. Auk ah. Ga penting. Tumbuhan encek gondok mulai membentuk koloninya di danau ini. Sayang sekali kalo nantinya akan terus bertambah banyak dan pemerintah tidak berusaha membuangnya. Danau akan ditutupi oleh enceng gondok. Dan aku mereka-reka berapa ya kedalaman danau ini. Kalau kapal ini tenggelam, kalo, kalo, kalo…haihhh… pemikiran yang serem. Masuk mobil lebih adem dengan ac, dan Mukhsin mulai asyik dengan tadarusannya. Indah bukan perjalanan kami? Senang-senang tapi tetap ingat padaNya.

Denyut nadi Tuk-tuk

Aroma mistik suku Batak sangat kental di Tuk-tuk ini. Tidak ada hawa ketenangan di sini sepertinya.full sesak. Ngapain ya di sini.

Mo beli pernak-pernik batak kok jauh2 nae ferry kemari ya?? Heran.

Hati-hati nawar di sini. Tawaran bisa sepertiga harga buka. Hati-hati menawar barang. Jangan nawar kalo ga niat beli. Mukhsin tahu banyak dengan hal ini. Nye ken Abua? Hahaha.. pengalaman ‘Sin!

Klo pande nawar barang di sini bisa murah banget. Aku cuman beli gantungan kunci dan tas kulit sulaman. Yaa oleh2 lah…

Heran aku,,, jauh2 cuman untuk beli2. manusia banget ya.

Pada kemana yang lain? Olala… B Dian, Sabar dll sudah ke ujung, lihat saudaranya Sabar menari. Ya, patung sigale-gale bak kesurupan, padahal ada yang menggerakkan di belakangnya asal dibayar 60 ribu sekali tampil. Hmmm harga yang sangat bagus untuk mengapresiasikan sebuah nilai seni.

Aku gak suka lihat mukanya yang moncong. Tidak ada aura ketampanan (klo dia maskulin ataupun cuantik kalo feminim, soalnya aku lupa nanya jenis kelaminnya, tapi kayanya cowok deh, soalnya beringas gitu.. lho kok jadi ngawur ne??.) Sudahlah. Jadi ga usahlah aku tampilkan photonya. Ga terlalu perlu dilihat. Tanya Sabar saja ya.. Sabar tahu banyak tentang hal ini. (Ya iyyalaaahh… Masak ya iyya doong, kan Wulan Jamilaa..masak Wulan Jamidong… ini ni, jingle nya Sabar pada saat itu).

Next. Ini ni… moment perjalanan yang paling menegangkan! Uji Kesabaran dan Uji Kemampuan!!

Simak laporan selengkapnya. Check this out!!!!

Olala… tidak kami temukan tempat untuk bisa shalat di sini. Jangan harap menemukan Mesjid di sini. Mayoriras atau semuanya mungkin beragama kristen di sini. Jamak takhirlah alternatifnya. Subhanallah sekali ya aturannya Allah. Begitu banyak kemudahan dan keringanan. Tapi kenapa ya masih juga ada yang enggan?

Perjalanan mulai kehilangan arah. Aku, Nella dan Dara mulai kehilangan selera. Sabar dan Bang Dian aku kurang tahu ekspresinya. Mungkin bisa saja sama. Maklumlah cowok, kadang2 ekspresinya susah ditebak.

Kata Dedy, bakalan ada yang indah nanti… Hmmm Dedy menawarkan sesuatu kepada kami. Soalnya rute yang bakalan dilalui adalah rutenya sewaktu dengan Peiter dulu.

Keindahan semacam apakah itu??

Mari kita teruskan…

Indah sekali ya alam ini, danau yang dijaga dengan angkuh oleh sederetan gunung yang menjulang seakan-akan tidak ingin membiarkan sedikitpun airnya tertumpah saat bumi berotasi (emang pengaruh? Entah J ). Mmm… rupanya jangan menikmati keindahan Danau Laut Toba ini pada saat dekat dengan aura Hermina. Namun pada saat dipadukan dengan gunungnya yang hijau segar,, subhanallah.

Ditambah lagi sawah-sawah yang sedang hijau gemah ripah… ada juga sepopulasi bule2 bersepeda motor.. bule malas ini pikirku… soalnya bule Banda Aceh lebih suka bersepeda ketimbang sepeda motor. Dan jugaa ada air terjunnnya…. wow!! Benar-benar Indonesia is a beutiful city kata Nadine di Amerika dulu.

Sayang, momentnya ga bisa diabadikan. Cuman bisa dibayangkan. Tapi sensasi ini lebih menarik. Lebih bebas untuk mengenang kembali tanpa merujuk kembali ke sebuah bukti nyata. Suasananya boleh ditambah-tambah mungkin lengakpa dengan sebuah villa mungil dan asri di bawahnya. Lengkap dengan sederetan kebun cabe ato anggur yang siap dipanen di sebelahnya. Juga ada kandang sapi lengkap dengan rumah perasan susunya… yaa silahkan berimajinasi.

Danau Toba masih dalam pandangan. Nikmatnya perjalanan semakin hambar, karena keindahan yang Dedy sampaikan tadi tidak seindah yang ditemui. Apa ni, kok gunung semua?? Mulailah kami yang perempuan cekakik-cekikik dengan hal-hal yang konyol. Kami mendeskripsikannya sebagai ekspresi kekecewaan.

Klo ente emang pencinta gunung, pergi lah ke sini. Indah sekali kalo dipikir-pikir emang. Sayang sekali saat itu kami tidak bisa berpikir jelas, karena sudah duluan dipasswordkan dengan keyword kecewa.. ya ndak bisa dinikmati.

Tapi lihatlah kawan, di gunung seberang sana ada jalan yang bertingkat-tingkat. Ada sapi yang sedang makan dengan lahapnya.. Ada bule (lagi) yang bergaya Indiana Jones, dan juga ada kuburan Batak yang salibnya segede-gede Gajah. Klo menurut Bang Dian sih, kuburan nya Batak ini lebih bagus dari rumahnya, iya memang nampak jelas terlihat di sepanjang jalan. Kayanya ada semacam kebanggaan gitu. Apa kemegahan suatu kuburan merupakan symbol kemakmuran keluarga. Iyya kali ya.. tanyakan Sabar sajalah. Lagi-lagi Sabar lebih mengerti dalam hal ini.

Perputaran matahari sudah mulai condong menurun ke arah jam 3. sejenak perjalanan menjadi indah. Ya, yang dikatakan Dedy ada benarnya. Ternyata dari puncak gunung entah apa ini namanya Danau Toba jauh lebih indah. Sejenak kami berhenti.

Merenung apa yang dikatakan Dedy.. tapi Ded, aku ga bisa menikmati keindahan ini… Aku lappaaaaaaaaaaarrrrr…. juga Nella, Dara, Bang Dian (so pasti Puasa tapi), Sabar, Mukhsin juga (cuman ga bilang2 takut sama Dedy), So Pasti Dedy jugaaaaa…

Kalo tahu rute yang bakalan dilalui beginian kan bisa bei stock makanan yang banyak tadi di Prapat. Dan sepertinya Medan yang dituju masih sangat jauhh. Namanya juga GPS, buatan manusia, ada kelebihan ada kekurangan. Dedy sang kepala suku masih berperan sebagai guide.

Shalat dhuhur sudah kami niat ke Ashar tadi, apa makan siang juga harus ditakhirkan ke makan malam? Oh Tuhan!! Ini urusan perut, tidak bisa dikompromi.

Ingat ga dengan sajak sewaktu SD dulu, kata guru Bahasa kami, gendang gendut tali kecapi, senang di perut senang di hati. Pakiban? Cucok kan?

Mukhsin tetap tekun dengan setirnya. Masih setia dengan jalan yang belum jelas ujungnya kemana. Saat-saat seperti ini GPS dan Dedy tidak bisa diandalkan (sori Bro!). bertanyalah kami di beberapa persimpangan. Ada yang menakutkan, sempat ada yang ngajak ngebut. Entah mobil siapa, macam cari perkara saja mereka. Mereka gak tau rupanya para pembesar SDC sedang jalan-jalan ini. Untung mereka cepat ngacir, karena kami memilih berhenti. Bukannya pengecut, tapi ini kan kampung orang, sama aja ya…

Kita kembali ke urusan perut… hati ini belum bisa tenang klo belum ada yang diisi. Stock makanan tidak ada yang mengundang selera. Yang ada Tenggo! Lapar ajah ga selera apalagi ga lapar…tap yaa..masuk juga beberapa demi kelangsungan hidup.

Dan Dedy pun turun membeli sesuatu yang layak dimakan.

Sebenarnya sudah banyak warung yang dilewati. Bukan masalah lezat dan gizinya yang jadi masalah, tapi halalan tayyibanya ni yang meragukan. Maklum saja mayoritas kristen di sini.

Alaamaakk… Dedy beli biskuit!! Nella sampe berikrar tidak bakalan makan biskuit lagi sebulan ke depan. Hahhahaha…… Dedy milih diam (..or jaim ne ?? peace, man!!)

Alhamdulillah setelah beberapa jam tadi mata selalu bertabrakan dengan salib kuburan, akhirnya ketemu juga dengan kuburan yang bernisan batu yang sangat normal. Mm, sudah dekat dengan perkampungan muslim ni. Lagi2 GPS tidak bisa diandalkan. Terbatas bukan?

Dan perutpun semakin berteriak. Aku, Nella dan Dara tidak bisa diam, semakin rame dengan cekikikan kelaparan dan sindiran halus untuk perjalanan yang sangat indah. Kayanya, Bang Dian, Sabar dan Mukhsin juga demikian. Juga so pasti Dedy. Hanya saja mereka lebih memilih diam.

Mungkin Karena itu ya, lelaki lebih banyak yang gila ketimbang perempuan. Soalnya kalo perempuan ada masalah pasti memilih berkoar-koar. Sedangkan para laki-lakinya memilih menelan untuk dicerna. Iya kali yaa…

Bersyukurlah wahai para perempuan!

Permen penyambung hidupIni ni Permen Penyambung Hidup !!

Tau ga, apa makanan idola kami saat itu? Permen tamarind… rasa asamnya sangat ampuh mengusir rasa enegnya biskuit. Walaupun sungguh jauh perannya sebagai pengganti nasi.

Medan masih belum terpetakan. Dari GPS terbaca Medan masih sekitar 6 jam-an lagi.

Rupanya perjalanan ini kembali ke Berastagi. Kan Dedy sudah bilang tadi..!

Untunglah sebelum kami mati kelaparan, kami menemukan surau. Shalat yang tertunda tadi tertunaikan sudah. Urusan perut dipending dulu, namun tidak bagi yang laki2nya (kecuali Bang Dian). Mereka bak melihat sesuatu yang sangat lezat langsung tanpa ba bi bu melahap santapan tadi pagi, nasi kotak Hermina hahahha! Rasanya udah gimana gituu.. tapi kayanya lezat banget saat itu. Rupanya begituan ya kalian…

Di sepanjang jalan terlihat pedagang jeruk bergantungan, eit bukan penjualnya yang bergantungan tapi jeruk dagangannya ya.. hahah.. segar buener! Juga hujan baru saja menyiram bumi, nampak jelas genangannya di jalan, becek. Daun-daun terlihat lebih hijau.

Akhirnya setelah sekian lama menahan rasa lapar ketemu juga rumah makan muslim. Tidak ada menu yang menarik. Memanglah masakan Aceh paling uenak.. semakin jauh ku melangkah, semakin cinta rasanya dengan masakan di rumah. Pilihan jatuh pada nasi. Harus nasi memang, kasihan perut indonesiaku kalo belum dikasih nasi ga bakalan ada kesimpulan kenyang. Di temani dengan segelas teh hangat ohh sungguh hangat.

Matahari kian condong ke Barat (naahh sekarang jadi tahu arah mata angin nih… matahari pasti tenggelam ke Barat. Semua juga tahu itu).

Di deretan bangku belakang, Ryan dan Noval masih akur-akur saja.

Magrib kami tiba di SPBU Berastagi. Hayoo.. siapa yang bermasalah dengan perut tunaikan haknya segera!! Shalat magrib dulu plus foto-foto di pelataran parkirnya… and makan bakso. Sepertinya makan siang kesorean tadi belum sampai ke kata kenyang. Mungkin karena pengaruh perut kembung ya? Yang berakibat pada pembesaran volume lambung. Na setuju?

Hutan Berastagi tidak terlalu indah malam itu. Kabut dingin lumayan menusuk tulang, mungkin karena terbiasa di Banda Aceh yang puanasnya minta ampun ya pas dingin beginian langsung deh menciut.

Walaupun selalu kita memohon kepada Allah, tunjukilah kami ke jalan yang lurus ternyata tak ada jalan yang selalu lurus ya? (ngawur ne!). Jalanan naik turun gunung sangat terasa berkelok-kelok. Namun kepercayaan sama Mukhsin sudahlah di level yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang di awal keberangkatan tadi. Sampe Dara bilang, Ntar Bang Mukhsin keluar dari SDC lamar jadi sopir aja.. soalnya sudah mahir dan Dara bakalan minta SDC untuk mengeluarkan sertifikat sopir. Aya-aya wae…

Gimana? Menyenangkan bukan perjalanan ini?

Serentetan gelak tawa terus saja mengiringi perjalanan kami. Tidak siang tidak malam ada ajah yang dijadikan bahan tawaan. Senyaaap…tertidur, bangun eh ketawa lagi..! Kecapekan dan urat-urat ketuaan mulai bermunculan hahha… jak lom.

Tapi…… memang indah sekali perjalanan ini.

Jreng jreng.. dan sampailah kami di Kota Medan. Serentetan rencana sudah terekam di benak kami masing-masing. Dari hasil voting suara perempuan tadi kami menyepakati untuk tidak menyerahkan tampuk kepemimpinan pengarah jalan ke Dedy. Karena kami pengen shoping! Setuju! Titik.

Dari hasil rembukan, kami kecuali Sabar yang memang dari awal bakalan meneruskan perjalanan ke kampung halamannya dan malam itu nginap tempat kakaknya, berencana bermalam di Hotel Garuda. Yang jadi masalah dimanakah alamatnya? Mukhsin ga seberapa ingat. Jangan tanyakan aku yang malah ga ingat sedikitpun. Jadilah kami mutar-mutar Kota Medan mencari Jalan Sisingamangaraja. Apa jalan Sisinga nya udah pindah? Ah mana mungkin.

Dua kali sudah kami mutar-mutar dan kembali ke Pos Satpam Bank (lupa) tempat kami bertanya tadi. Sudahlah, ga usah tanyain lagi. Cari becak saja.. jadilah Bang Dian naik becak dan kami mengikutinya dari belakang. Hahaha.. lagi-lagi Ded! GPS tidak bisa diandalkan. Untuk ke Garuda rumusnya sama dengan GPS + becak. Just ulok kok Ded…Oiyaa, Sabar udah turun duluan tadi. Mau ke tempat yayangnya kale… (ehm ketahuan ya aslinya lo!!).

Garuda ga juga ketemu, carilah kami penginapan yang lain, usahakan yang semurah mungkin. Ada yang dekat Loket Kurnia, murah. Kamarnya luas plus bath upnya lagi. Tapi banyak penghuni kecoaknya… iiiiiiiiiiii….. ga deh.. langsung ngacir deh.

Terlihat jelas rona kekecewaan di wajah2 kami yang perempuan. Karena jam sudah berdenteng 11 kali dan ini pertanda kesempatan kami untuk kami shopping malam ini berakhir sudah. Dan besok pagi-pagi harus back to Banda Aceh. Oh my God!! Down semangat turun ke level 10%. Sebenarnya sih tidak bakalan buru-buru seperti ini kalo tidak mengingat Mukhsin yang harus segera terbang ke Palembang mengikuti seminar HATHI.

Ya sudahlah.. mau gimana lagi. Soalnya Cuma satu-satunya Mukhsin sopir andalan kami sekarang. Hawa syurga dunia mulai menguap dari kepala kami. “Kak, rugi aja kita ni klo kita ga belanja apa-apa, Padahal adek Dara udah esemes ini itu untuk dibeli” ujar Dara. “iyya kaakk… Nella juga” lengkap sudah suara kekecewaan.

Dari beberapa hotel yang kami singgahi, akhirnya ketemu juga yang lumayan bagus dan sesuai dengan standar kami. Dapat kamar yang langsung berteraskan tempat parkiran. Awalnya kami sempat ditawarkan kamar di lantai 2 yang ada bunyi desahan anehnya (ngertikan bunyi apa?).

Sereeemm, lebih serem ketimbang hantu. Kalo hantu masih bisa diusir dengan Ayat Kursi, klo suara ini mah ga mempan! Tutup kuping kalee.. lupakan. Mari kita kembali ke topik.

Setelah mandi dan shalat Isya kami keluar lagi nyari makan malam. Jam sudah di pusaran 12. Jalanan sudah lengang. Hanya satu dua saja yang terlintas di depan kami. Denyut Kota Medan sedang beristirahat untuk mempersiapkan denyutan berikutnya di keesokan hari.

Makan malam tepatnya makan tengah malam dengan menu yang sangat berasa di lidah dibandingkan dengan menu-menu di hari kemarin.

Setelah makan, pulang ke hotel and tidur.

Tidak ada lagi pembicaraan tentang shooping.

“Sssttt… tenang ajah Dara, besok kita akalin Dedy..” sela ku sebelum mata kami benar-benar terpejam. Emang bisa?

Pagipun tiba. Susah sekali membuka mata.

Mandi cublam cublum dan masukin kembali peralatan ke dalam koper dan tas masing-masing. Perjalanan pulang kempong.

Eit, ga dulu dink, kami isi dulu perut ini dengan jajanan lontong di pinggiran jalan dekat penginapan.

Sabar menyapa kami, katanya kepingin ikut bareng pulang. Gila lu ya, udah sampe ke kampung dikit lagi, pulang sana sayomi keluarga. Nasehat Dedy.. dan ampuh. Sabar jadi tidak berniat ikut kami pulang.

Dannn… pulang lah kami..melewati kemacetan pagi, jam sudah pukul 09.00 melar 2 jam dari jam yang direncakan untuk pulang.

No sho****ng dan minim oleh-oleh.

Aura tidak puas sangat tergambar di wajah kami yang cewek. Pupus harapan wak!

Namun coletahan kenangan perjalanan adalah hiburan kami. Tidak ada yang berubah dengan rasa persahabatan kami. Malah semakin terasa. Senang dan dongkol dinikmati bersama.

Dari pada tidak ada sama sekali, kami memutuskan untuk belanja di Binjai saja. Lumayan lahhh…

Tapi kudu nyari ATM dulu nih, soalnya ga da persiapan lagi.

ATM Mandirinya jauhh dari parkiran dan jalan kaki ke belakang..dan antrian panjang juga. Matahari semakin meninggi. Apa terkejar ni jadwalnya Mukhsin?

Baru antrian di ATM aja sudah memakan waktu hampir satu jam ni, belum lagi belanja2-an.

“untuk cari ATM ada waktu, untuk shopping di Medan ga da waktu” sela Dara disertai dengan tawa kami yang ditujukan ke Dedy. Bukan salah Dedy, juga bukan salah siapa-siapa kok. Santai…

Tetap saja tak terpuaskan, jam sudah ke arah angka 11. Paling siap dhuhur ni baru keluar Binjai pikirku… dannnnnn

“Apa kita balik ke Medan saja” celutuk Mukhsin. HAAA?? Ayooooooooooooooo, tanpa perlu bertanya lagi, dilengkapi dengan anggukan Dedy dan Bang Dian. Kami bertasbih gegap gempita (dalam hati yaaa…).. Rona kebahagian terpancar sempurna. Kami nampak lebih cantik dari hari-hari sebelumnya.

Rupanya, Mukhsin baru saja dapat sms tentang postponenya jadwal penerbangan. Waktu menjadi lebih lebar rasanya jadi lebih dari 24 jam (nampak kali bohongnya ni-red). Sederetan daerah belanjaan terurai… pasar murah Petisah, Medan Mall, Dunkin Donat, dll.

Untuk lebih memudahkan session belanja, kami mengundurkan diri dari ‘pengawalan’ para lelaki. Beri kami ruang dan waktu dong… ga enak belanja sama cowok.. cewek kan banyak milih-milih, ga macam cowok langsung beli dengan harga bukaan. Ga pake nawar-nawar, gengsi kali ya? Heuheu… coba cewek, pasti merayu dayu dulu sampe sesuai dengan harga yang diinginkan untuk barang yang diinginkan. Cewek banget ya!

Jadilah kami ke Petisah dan cowok ke DD. Masalahnya ga da yang tahu Petisah itu dimana? Halah-halah gagal lagi dehh….buyar beli yang murah-murah. Dari pada nyasar mendingan kita balik ke MM aja ya…

Aku beli perlengkapan pesanan Mamak dan untuk sendiri, Nella dengan travel bag, dan Dara dengan pilihan sendal yang sangat manis. Murah banget dibandingkan dengan harga Banda Aceh yang mencekek leher. Pengennya beli banyak, tapi malu hehhehe,,,,,

Di kisaran jam 1 kami siap belanja. Rasa kecewa tadi menguap sudah.. seandainya kami adalah tokoh perang di games2 PS ato PC pasti bar energi di atas kepala kami sudah hijau penuh terisi. Full power now, let’s go home!!

Gambar ini mewakili belanjaan kami. Bagian belakang sudah sesak terisi. Posisi Sabar yang kosong terisi sudah dengan sederetan belanjaan.

Tidak lupa juga membeli pesanan Nani, Manisan jambu. Juga yang tentunya Bika Ambon. Complete sudah.

Shalat dhuhur kami kerjakan di Mesjid hijau Berastagi, sehubungan aku punya janji ngambil pesanan Bakso di sini. Mesjidnya sangat teduh, ijo royo-royo…Berdoalah kami untuk keselamatan perjalanan kami, dunia dan akhirat. Siap shalat, sempatin keliling Kota Binjai, makan Bakso.

Semuanya sudah beres, perjalanan dilanjutkan…Malam ini perjalanan lebih sepi, rupanya kekosongan 1 personil berpengaruh juga. Bang Dian lebih pendiam dan lebih sibuk dengan hapenya. Di luar hujan mengguyur deras. Nella dan Dara sudah tertidur pulas…dan aku masih sibuk dengan pikiranku. Yang jelas, SMS tadi sore masih mengganggu pikiranku. (sudahlah…ini sudah agak-agak mengarak ke personal case. Alamakjang..!!!)

Suasanan kembali hidup, klo kami bertiga on. Jadilah saling ledek meledek dan masing-masing harus punya pertahanan diri yang kuat. Klo ga?? Harga diri harus dipertaruhkan. Hujan deras masih saja mengiringi perjalanan kami. Rupanya Sang Khalik sangat merestui kepulangan kami, sampe2 kami dipeusijuek di sepanjang jalan pulang. Dan saudara-saudara…. Rupa “hujan”yang lain pun menyapa saya…. Alamakkk memalukan….Sudahlah lupakan saja episode ini. Ga penting banget, men! Toh smuanya sudah berlalu, jadikanlah sebagai pengalaman. Insya Allah, skenario yang lebih bagus sudah Allah persiapkan. Berpikir positiflah, Ponk!!”

Sejenak perjalanan menjadi semakin dingin, masing-masing disibukkan dengan pikiran masing-masing. Masing-masing punya masalah. Masing-masing punya cara sendiri dalam menyelesaikan masalah. Dan…..

Bagaikan kaladeiskop perjalanan, daerah-daerah yang dilewati sewaktu perjalanan ke arah Medan kini dihitung mundur. Tengah malam kami melewati Teupin Raya dan Sigli (Kami semakin bangga dengan kampung kami). Kehangatan di mobil mulai menurun seiring dengan berkurangnya penglihatan kami akibat ngantuk yang mulai mnyerang. Hanya Mukhsin yang tidak boleh tidur.

Oiya, tadi kami sempat ke rumah Bapaknya Mukhsin, dan barang bawaannya Mukhsin adalah duren!! Kalo yang suka duren sih ga masalah, tapi aku?? Nikmati sajalah…. bayangkan rasa yang lain. Beres. Ato bawa ngantuk ajah. Tidur. Aman.

Geluduk-geluduk….”apa ni???”… mobil sewaan kami mulai terasa sempoyongan. Jam sudah menunjukkan pukul 4-an. Mobil berhenti. Ada yang gak beres ni. Benar saja. Ban mobil belakang kempes. Sekeliling masih gelap mungkin ini di sekitaran Indrapuri. Mata ini sangat susah untuk diajak terbuka. Tidak kuperdulikan dengan kerja kerasnya Bang Dian, Desy dan Mukhsin. Aku sangat ngantuk. Sayup-sayup kedengaran ada suara lain selain mereka, ooo…rupanya masih ada banyak orang yang baik hati di sekitar kita. Alhamdulillah kami tertolongkan oleh bapak-bapak bermobil pick-up yang mau ke Takengon.

Jam 6-an shubuh kami memasuki Kota Banda Aceh, di kepala kami kembali terbayang pekerjaan yang menunggu yang sudah kami tinggalkan sejenak. Sesak lagi dehhh… padahal baru saja refreshing.

Perjalanan berakhir.

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.